Beranda » Kategori » ADAT » Mangulosi menjadi Mangampolopi

Mangulosi menjadi Mangampolopi

Sebenarnya pentingkah kita lestarikan adat batak itu?. Adat batak mana yang perlu dilestarikan, dijaga dan dilaksanakan dengan sebaiknya?. Terlalu berani mungkin, bila saya mengatakan sudah terjadi pergeseran pelaksanaan adat batak saat ini. Bila ada yang bilang, eme namasak digagat ursa, ia i namasa ima ta ula. Saya harus katakan, itu Ursa/Rusa bodoh yang mau memakan padi yang sudah masak. Ada ucapan keputusasaan yang terkandung di dalamnya. Bila memang penting kita masih bisa dan mau menyelamatkan adat batak itu, maka perumpamaan itu harus dibuang jauh-jauh.

Perumpaan kedua yang lazim saya dengar, Ompunta sijolo tubu, martungkot sialagundi, napinungka ni parjolo siihuthonon ni naparpudi, kini dipelesetkan (sengaja?) menjadi sipadimposdimposon, sipadenggan-dengganon ni naparpudi. Kalimat sipadenggan-dengganon ni parpudi ini mengandung makna jamak. Hemat saya, tak ada kata sepakat yang sama-sama diterima semua orang batak yang menyatakan inilah adat yang benar. Karena tidak ada, maka semua saling melaksanakan semua ritual adat batak sesuka hatinya, sesuai selera dan sesuai kondisi keuanganya. Dengan tujuan padengganhon adat na parjolo itu. Seolah, adat batak yang diwariskan leluhur kita itu belum seutuhnya benar, sehingga harus kita benarkan lagi.

Saya menamainya dengan Adat Batak Anggaran Dasar. Pelaksanaan adat batak berdasarkan yang sudah dituliskan di Anggaran Dasar suatu punguan marga. Hematku, bahwa dalam pranata sosial masyarakat batak, tidak dikenal dengan adat marga, adat punguan. Dari jaman dulu, orang batak hanya mengenal yang namanya Adat ni Luat, Adat ni Bius. Kita sering mendengar Adat di Toba, Adat di Humbang, Adat di Rambe, Adat di Samosir. Sekarang ini, setiap marga menjalankan ritual adat batak sesuai dengan kesepakatan pengurus punguan suatu marga. Siapa yang pintar bikin Anggaran Dasar, dan pintar beretorika, maka adat merekalah diikuti.

Padahal, ketika menyusun Anggaran Dasar ini, para pengurus punguan itu dalam keadaan konsdisi setengah mabuk. Anggaran Dasar yang hendak dijadikan patokan pelaksanaan adat itu disusun di Lapo yang kebetulan ada fasilitas ruangan meeting, layar proyektor, dan lain-lain. Lalu, sembari minum bir, dirancanglah tatacara pelaksanaan adat marga mereka. Disepakatilah, hanya sekian ulos untuk diuloshon parboru, tidak boleh lebih. Ulos herbang hanya diberikan keluarga inti, selain itu diampolophon. Besarnya pinggan panungkunan sekian. Begini, begono, begono begini, dan banyak lagi. Lalu diketik rapi pakai komputer, dibagikan pada semua anggota punguan, ditandatangani ketua, sekretaris, penasehat punguan, itulah, buku Anggaran Dasar. Semua pelaksanaan adat harus didasarkan pada buku itu, selain itu salah!.

Hakekatnya, adat berlangsung karena ada holong, kasih, saling mengalah, masipaolo-oloan tanpa ada kata ingkon.

Apa sih makna mangulosi dalam adat batak?. Apakah semata dinilai hanya dengan mengkonversi sehelai ulos dengan mata uang rupiah?. Miris mendengar bila seorang berkomentar bahwa ulos yang diterima di pesta pernikahan, sehari sesudah pesta itu, ulos yang diberikan para sisolhot, horong ni tulang, hula-hula, langsung di jual di Pasar Senen. Bila demikian, maka benarlah apa yang saya amati sekarang ini, bahwa banyak terjadi di pernikahan marunjuk, natoras ni boru bisa meminta supaya borunya tidak di ulosi lagi. Tapi sebagai gantinya, maka di-uangkan saja. Diampolopi!.

Contoh tren yang sudah mulai dilakukan. Hanya keluarga yang sangat dekat, natoras, iboto, bapauda/tua kandung yang mangulosi, selebihnya diuangkan saja. Bahkan sudah berani meminta ke hula-hulanya dan tulang ni na muli, hanya ulos dari tulanglah yang diuloshon, selain itu diampolopi saja.

Beberapa kali saya menghadiri kejadian yang serupa. Padahal, nama saya sebagai yang turut mengundang ada di lembaran kertas undangan itu, yang artinya saya seharusnya mangulosi. Kejadian lain, nama punguan yang saya ikuti pun ada di kertas undangan yang pengundangnya lebih dari limapuluh keluarga, yang artinya juga adalah sisada ulaon sisada boru. Ketika saya sudah menyiapkan ulos, untuk diberikan kepada iboto/boru itu, maka ada bisik-bisik, permintaan natoras ni boru diuangkan saja. Kedepan, saya tak mau lagi menghadiri acara pamuli boru, pangoli bere, cukup titip ampolop, atau minta nomor rekening, lalu saya transfer. Saya tak melihat adanya kerinduan supaya mempelai, kelurga baru itu diberkati melalui doa-doa yang dipanjatkan dengan perantaraan ulos. Padahal, nilai sehelai ulos yang berikan tidak bisa dinilai dari rupiah.  Berpikir, hanya uang yang lebih penting bagi pengantin baru itu daripada sehelai ulos yang diberikan dengan tulus iklas.

Mungkin, besok atau satu hari nanti, doa hula-hula atau tulang tidak penting lagi. Hepenghon ma ito, tulang, ima singkat ni tangiang muna. Uangkan saja tulang, itulah pengganti doa kalian.

Selidik punya selidik, di marga lain pun demikian. Sudah berjemaah menguangkan ulos. Orang tua memberikan contoh yang sangat salah tentang pemahaman budaya batak khususnya mangulosi. Seyogianya, adalah kebanggan tersendiri bila banyak orang yang rela menghabiskan waktunya menunggu saat mangulosi borunya, memberikan untaian doa-doa melalui perantaraan ulos itu. Seharusnyalah merasa bersyukur bila semua hula-hula berbondong mangulosi pengantin.

Kaum muda hanya mengikuti yang sudah ada. Kelak, di pernikahan orang tak ada mangulosi lagi, makan, poco-poco sebentar, menyalam penganting dengan ampolop yang sudah disiapkan, lalu pulang.  Akan sama makna mangulosi dengan mangampolopi, mangulosi sama dengan memberikan ulos, dan manghepengi sama dengan memberikan ampolop

Ai aha do dohonon  hata hasasahat ni ampolop on?. Molo hata ni ulos, ulos sitorop rambu, ulos na hapal, ulos na marsimata…molo ampolop?

12 thoughts on “Mangulosi menjadi Mangampolopi

  1. Horas . .

    Jadinya ampolop sitorop rabbu, ampolop na hapal dohot ampolop na marsimata hahahahaha . .
    Memang di jaman sekaran adat itu seolah2 diciptakan sesederhana mungkin mungkin ada baik nya tp menurut saya jadinya menghilangkan keaslian adat Batak itu sendiri.

    Btw di blog ini ada pembahasan ttg fungsi Tulang dalam ada? Hak n kewajiban Tulang dalam adat Batak. Makasi . .

  2. Horasss Lae,…

    Imada Lae ku,hinorhon ni hamajuon ni jaman saonari on nungnga songoni be partupana.molo nitailihon tu pudi niranap nang tujolo,boi do tarjalo roha sude namasa di ruhut-ruhut ni adat batak on.ai sian najolo pe nungnga adong hian hata ni Oppunta sijolo-jolo tubu na mandok”Andilo nahinan Hadang-hadangan saonari”
    antong sada bukti do on nasai tontong do margeser sude na masa di parngoluon on sesuai pada jamannya.
    *eme namasak digagat ursa, ia i namasa ima ta ula.
    (di pakke manurut haporluonna)
    *Ompunta sijolo tubu, martungkot sialagundi, napinungka ni parjolo siihuthonon ni naparpudi,
    (Sada pe pinompar ni si Raja batak di hatiha on ndang adong naboi mangihuthon on)
    *orang batak hanya mengenal yang namanya Adat ni Luat, Adat ni Bius. Kita sering mendengar Adat di Toba, Adat di Humbang, Adat di Rambe, Adat di Samosir. Sekarang ini, setiap marga menjalankan ritual adat batak sesuai dengan kesepakatan pengurus punguan suatu marga. Siapa yang pintar bikin Anggaran Dasar, dan pintar beretorika, maka adat merekalah diikuti.
    (Usaha na porlu si dukungon do on se cara positif,ima songon dalan laho melestarikan budaya batak)
    *dirancanglah tatacara pelaksanaan adat marga mereka. Disepakatilah, hanya sekian ulos untuk diuloshon parboru, tidak boleh lebih. Ulos herbang hanya diberikan keluarga inti, selain itu diampolophon.
    (Molo dung dialap hata,nungnga las roha ni namanjalo dohot na mangalehon)
    *Kaum muda hanya mengikuti yang sudah ada. Kelak, di pernikahan orang tak ada mangulosi lagi, makan, poco-poco sebentar, menyalam penganting dengan ampolop yang sudah disiapkan, lalu pulang. Akan sama makna mangulosi dengan mangampolopi, mangulosi sama dengan memberikan ulos, dan manghepengi sama dengan memberikan ampolop
    (Jolma na marbisuk do bangso batak…)

    Molo songon tanggapan naboi nian Pangidoan tu suddut Naupposo:1.Sipasidingon:”Malo ndang haparguruan,oto ndag –
    tarajaran.”
    2.Pangidoan:”Ganjang soadong gotapon,Pendek
    soadong udutan”

  3. Khususnya untuk orang Kristen yang memilih firman Tuhan menjadi keteladanan dan dasar kehidupan, adat dari suku apapun yang sifatnya bertentangan dengan firman harus ditinggalkan karena demikianlah firman Tuhan Markus 7:7-9 dan 1 Petrus 1:18-19 dan Kisah 6:14. Kita sudah paham, demikian banyaknya keberhalaan dalam adat Batak karena adat itu adalah warisan nenek moyang yang tidak mengenal firman Tuhan. Jadi kalau ada umpasa yang berkata “Tuat raja di jolo martukkot siala guddi, napinukkan ni parjolo nihuthon ni parpudi”. Uppasa ini tidak relevan dengan iman keyakinan orang Kristen. Orang Kristen harus berani melepas tradisi lama (maaf: jangan mengutuki tradisi lama) menerima firman yang menjadi pengganti. 2 Kor 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang. Sulit kita mencari pembenaran kalau kita sebut bahwa adat Batak tidak bertentangan dengan firman Tuhan atau kekristenan yang sejati. Di samping itu, pemborosan waktu dan uang sangat kentara dalam adat Batak, sehingga banyak orang Batak jadi miskin karena adatnya yang harus dituruti walalu sesungguhnya ia tidak mampu. Sumbang saran boleh kita berdiskusi ramah tamah lewat e-mail: stephan_manulang@yahoo.com.
    Salam dan hormat dari Stephan Simanullang pemberita firman di Radio Pelita Batak Doloksanggul.

  4. saya setuju dengan Bapak Stephan Manullang, bahwa adat orang Batak baik dalam acara apapun adalah suatu keberhalaan terhadap cara hidup orang lama (belum ditebus). Dalam hal adat orang Batak yang saya lihat bahwa kebanyakan orang Batak terlalu gengsi kalo gak pake adat. Padahal kita adalah orang-orang yang sudah ditebus dari cara hidup yang lama dengan darah Yesus yang mahal. Adapun kecirian adat orang Batak menimbulkan kegengsian atau takut malu.

    Mari orang yang percaya dan berani menegakkan firman Tuhan, jangan malu ga beradat..kita memiliki adat yang diberikan oleh Tuhan Yesus yaitu berdoa, membaca firman Tuhan dan menjadi pelaku firman Tuhan…

    • Saya bangga atas pemikiran Marhadi dan Bapak Stephan Manullang, mudah2an pada saatnya sesuai harapan ada di sisi Kanan Yesus.
      Benar itu dulu berawal pada keberhalaan, namun bagi kita yg sudah ditebus, itu menjadi Budaya Bangsa Batak tetapi dilaksanakan dan dikonversikan berawal dan bermuara di dalam Nama Allah Bapa, Anaknya Tuhan Yesus dan Roh Kudus.
      Jangan malah kita yg mempunyai nilai Budaya sangat berharga, hilang begitu saza karena salah memahami dan mengimplementasikan setelah mengenal Yesus secara luas..?
      Jujur kita melihat, pakaian atau sebagian benda yang kita gunakan, adalah hasil doa-doa yang dilakukan oleh agama lain (mis. Budha), lihat saza ke Pabrik2 atau toko-toko yang dimiliki oleh Saudara kita yg beretnis Tionghoa maupun dari Jepang. Barang2 tersebut langsung kita pakai sebelum kita “sucikan”. Apakah kita berdosa di situ..?
      Mari kita perpandangan luas, logis, karena Tuhan memberikan pengetahuan itu untuk kita.
      Syaloom

  5. horas disude bangso batak,,molo boi nian pangidoan,molo adong na masa sisongon i,tapaingot ma halahi asa ingot di adat ta i,ai sude suku do adong adatna,tarlumobi ma hita bangso batak jala na takkas maraadat,adong do poda ni ompui JUSTIN SIHOMBING na mandok ***sipasurut hamajuon do namarniang ni roha di adat/hata batak****taingot ma i di ngolutta siapari………..mauliate

  6. Luar biasa ulasan on ba, memang nunga godang pesta unjuk adat batak na bergeser sian idealisme sebagai halak batak tulen. Molo Lae Stephan Manullang mandok nunga adong hidup baru, jadi angka produk lama ditinggalhon mai ninna, nauli mai, alai ahu dang setuju i 100%. Ai adat ni ise do nabaru on ? sian dia do haro ro ni i, memang dihita angka parroha nabaru merasa nabaru ma on antong alana nunga hita imani. Di negara na asing pe mardalan do hidup baru on alai dang porlu meninggalhon tradisi sebagai jadi diri kesukuan manang bangso na. Ulos sebagai peninggalan ni ompunta najolo sebagai suatu karya seni budaya, molo didok halak Malaysia bahwa ulos i hasil ciptaan nenek moyang nasida jala didaftarhon tu PBB sebagai hasil cagar budaya mungkin muruk do hita, molo ahu pribadi pasti muruk. Jadi dang porlu sogo rohanta mamereng ulos i, tinggal hita ma memaknai pemberian ulas i ditingki mangalehon. Kebetulan sian hutanta sian Samosir angka partonun (sibahen ulos), jadi sumber penghidupan do i di nadeba, jala martangiang jala angka partangiang do nasida. Maksud hu disi asa tetap do hita lestarihon budayantai. Mauliate. Tumpak Situmorang (Bogor)

  7. mantab hian ulasan mu na lae. molo boi ta baen ma seminar na. asa tarbuka pemikiran bangso i. terutama kaum muda
    horas ma di hita

    • Salom brother Chrisman Siregar, Lebih baik kita ketemu bicara tanya jawab dan saling menghargai satu dengan yang lain.  Saya di Perumahan Legenda Wisata Zona Cleopatra Blok I.3/36 Cibubur. Tapi adakalanya saya di Medan, an Tobasa, Sibolga, Nias dan Mentawai bicara di Radio.

      salam dari Stephan manullang0816789133 atau 085366789133

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s