Beranda » Kategori » CERPEN » Kristin -1-

Kristin -1-

Sore beringsut malam. Diluar masih hujan. Sesekali petir menyambar. Aku melilitkan selimut untuk menghangatkan badanku.

Bagi kami, permainan ini tak sekedar mencari siapa pemenang. Jauh daripada itu, mengasah kemampuan memprediksi menjadi hal yang utama. Itu sebabnya permainan yang satu ini sering kami mainkan dengan serius dan sungguh-sungguh tanpa taruhan. Ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa mengalahkan lawan yang seharusnya kita kalah.

Menghitung jumlah kartu yang masih tertutup, memprediksi nilai yang harus dicapai juga menghambat perolehan nilai yang sudah dicapai lawan menjadi tujuan utama. Kadang nada kecewa terlontar dari mulut ketika di akhir penghitungan jumlah yang diperoleh tidak tercapai, kurang satu atau dua point. Atau, tawa akan pecah seketika ketika nilai terkecil, seperempat, bisa membunuh nilai tersebsar, lima puluh. Puas bagi si pembunuh, dan dongkol bagi si korban.

Permainan trup ini menjadi sangat populer bagi kami karena hal di atas.

Hujan di bibir malam ini membuat kami semakin betah berlama menikmati permainan kartu trup ini. Desiran angin yang menerobos dari celah pintu itu membuatku menggigil. Di luar sudah gelap. Jam di dinding menunjukkan angka setengah delapan malam. Sesekali terdengar guruh menggelegar didahului sabetan kilat yang menyilaukan mata.
Sejenak, kami melupakan semua keluh kesah penyusunan tugas akhir. Bahkan, aku tidak peduli, ketika mengingat robot rancangan kelompok kami sebagai bahan untuk tugas akhir itu belum sepenuhnya berhasil, padahal sidang tugas akhir tinggal menghitung hari.

Gelak tawa kami berehenti seketika. Seseorang mengetuk pintu dan memanggil namaku. Lamhot yang duduk paling dekat dengan pintu itu bergegas berdiri, melihat siapa gerangan tamu yang berkunjung menjelang malam begini.
“Lili?” ujar Lamhot setengah berteriak
“Iya, Bang. Bang Hen ada?”
“Ada,ntuhlagi asyik main, masuk De, jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri, kami juga sudah menganggapnya rumah sendiri kok” ujar Lamhot. Memang, bukan tempat kost kami kok. Sudah Pegete, penghuni gelap tetap. Pemilik kost, Alex, sudah mengungsi ke kamar sebelah.
“Disini saja Bang, Bang Hen-nya saja yang kemari” Lili memanjangkan lehernya mencari sosokku di pojok yang tidak memperdulikan kedatangya.
“Hoi, adekmu nih….” teriak Lamhot.
Ah, pengacau.
“Ada apa De?, mau ikut main trup” ujarku. Aku berdiri persis di depanya.
“Boleh minta tolong nggak, Bang?”
“Tolong apa?, asal jangan pinjam uang, ini sudah tanggal tua” jawabku asal
“Bukan itu, tapi janji dulu, eh sumpah ya, mau bantuin”
“Janji apa?, kayak anggota dewan saja, disumpah”
“Serius”
“Ada apa sih?”
“Janji ya?”
“Nga maup, mahua ho Lili?” kataku seraya mengucak rambutnya yang lurus sebahu. Kulihat senyum di bibirnya. Lalu membisikkan sesuatu.
“Bah, kenapa kau yang kemari. Nanti saja, tunggu reda hujannya. Bilang saja, nanti aku datang”
“Harus sekarang, Bang”
“Sekarang?, hujan begini?, tak ada payung”
“Iya, sekaranglah”
“Dan….tunggu!. Kenapa bukan dia yang minta?, mau sekali kamu disuruh-suruh hujan begini”
“Ntuh orangnya…”
“Hah?, ngapain disitu?”

Kristin mematung di pojok itu seraya memainkan payung di tanganya, mungkin dia mendengar pembicaraan kami. Gerimis masih mengguyur dan sesekali kilat menyambar di angkasa, sehinga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas di antarasilaunya kilat dikeremangan petang itu.

Senyum tak jelasnya mengembang, menghiasi wajahnya, aku mengisyaratkan supaya dia mendekat. “Pasti ada yang tak beres nih, bukankah tadi sore kami bersama di warung tenda sana?” bathinku.
“Kenapa lagi, Appara”, aku memanggilnya appara, juga sebaliknya. Ini kesepakatan teraneh yang pernah dibuat manusia. Biasanya panggilan Appara itu disematkan oleh seorang pria batak pada semarganya yang hirarki garis keturunannya lebih rendah. Dulu, aku menawarkan untuk memanggilnya “ito” tapi ditolaknya dengan alasan yang aneh pula. “Ito” itu sudah sering dipakai orang, katanya.

***
Sore itu aku menunggunya. Dia bisikkan itu ketika berpapasan di lorong kampus. “Tunggu di warung”, belum sempat ku menjawab Kristin sudah berlari menjauh. Bah, apaan ini.

Aku sengaja duduk menghadap pintu empat gerbang kampus USU supaya bisa melihat kedatanganya. Aku tak menghirau sisa gerimis yang masih terasa menghujani tubuh kurusku. Hingga gadis yang kutunggu berjalan ke arahku. Siapa bilang dia feminim?, jauh!. Jangan berikan alasan, karena kami kuliah di bagian engineering sehingga sifat feminim seorang mahasiswi dijurusan kami hilang. Seorang yang feminim itu akan tetap menunjukkan aura kefeminimanya dimanapun dia berada. Kristin sedikit tomboi. Tak hanya itu, sikapnya cuek. Tak hanya itu, maunya menang sendiri. Tak hanya itu, tak peduli pada perasaan orang. Itu saja, sudah cukup menggambarkan sifat aslinya.

“Belum lama menunggu, kan Appara?”
“Belum, belum lima jam”
“Ada urusan tugas akhir”
“Sudah tahu, temanmu yang memberitahu, katanya soden pembimbingmu mengajar kelas sore”
“Iya” jawabnya singkat. Wajanya berbinar. Dia duduk disampingku.
Mungkin aneh didengar orang, ada laki-laki panggil sebutan Appara pada perempuan atau sebaliknya. Tapi itulah kami. Ada cerita lucu dibaliknya.
“Kalau kupanggil, pariban, mau?” ujarku kala itu, mataku mendelik, pikiranku menari, perempuan aneh.
“Jangan, emang aku paribanmu?”
“Bisa iya”
“Kenapa bisa iya?”
“Katamu namborumu menikah dengan marga Simanungkalit, itu kami…”
“Sudahlah, panggil Appara saja” katanya cepat, secepat tanganya menyambar sisa gorengan di depan kami.
“Lapar, boleh minta lagi?”
“Minta saja, bayar sendiri, sekalian yang barusan kamu habisin”
“Cowok aneh”
“Kok, aneh?”
“Kalau kubilang, boleh minta, itu artinya kamu yang harus bayarin”
“Tidak ada uangku lagi, kalau lapar, pulang ke rumah, masak sendiri”
“Aku tidak mau”
“Kenapa?”
“Dirumah tidak ada makanan”
“Masak sendiri saja”
“Aku tidak tahu memasak, memasak air saja, itupun kadang gosong”
“Airnya gosong?”
“Bukan, airnya kering, tempat masak airnya yang gosong” ujarnya santai, ringan, jemari tanganya yang lentik memainkan pulpen di tanganya, mencoba menuliskan sesuatu di diktat kuliahku. Aku memperhatikanya.
“Kenapa menatapku, Appara, terpesona ya”
“Iya, aku terpesona dengan keanehanmu”
“Aneh?”
“Iya”
“Kok aneh?”
“Salah satunya, hobbimu aneh”
“Apaan?”
“Sudahlah, pulang saja, atau aku antar?, ini sudah hampir malam” bujukku. Senja menguning, aroma hujan yang merintik tadi masih terasa. Satu persatu tukang becak dijembatan sana membuka penutup becaknya. Hiruk pikuk pertigaan simpang Pembangunan USU menjadi pemandangan yang biasa kala senja seperti ini.
“Bilang saja ngusir, mau main trup ya, aku temanin ya”
“Yeee…jangan, apa kata orang nanti, dilihatnya kau pegang kartu”
“Peduli amat kata orang”
“Ayolah, pulanglah” kataku merayunya. Aku memang mau main kartu. Tawa temanku bergema diseberang sana.
“Aku masih punya uang buat beli makanan”
“Ya sudah, aku antar beli makanan ya”
“Nggak, kita makan bersama”
“Beli dua ya”
“Ngga, uangnya tidak cukup”
“Hah, sepering berdua lagi?”
“Bukan sepiring, tapi sebukungkus berdua”
“Iya,..iya, sebungkus, mana cukup”
“Mau apa tidak?, atau aku tunggu sampai malam disini”
“Jogal!, ayolah!, tapi jangan makan di atas jembatan itu lagi, masih sore, malu” kataku

Kami pernah makan malam berdua dipelataran jembatan itu. Aku tak habis pikir, apa yang ada dipikiran gadis berambut sepundak ini. Katanya sensasinya, ada tukang becak, ada penjual nasi goreng dan sesekali teriakan supir angkot yang berhenti sejenak menunggu penumpang.

Akhirnya aku berhasil membujuknya, mengantarkanya pulang. Sebungkus nasi goreng ditentengnya. Perjanjianya cukup sederhana. Makan di beranda depan, dan harus berdua. Secepat kilat kukabulkan permintaanya, paling lama lima menit aku menghabiskan jatahku. “Bulan depan aku ulang tahun”
“Aku tahu, apa perlu disiarkan di radio?”
“Kupikir kau lupa, Appara”
“Sebenarnya mau kulupakan, sih?”
“Ih, jahatnya”
“Lupa kok jahat, yang jahat itu pembunuh, perampok”
“Sama saja. Aku mau hadiah ulangtahun darimu”
“Boleh, asal tidak lebih dari harga lima ribu”
“Nanti kubilang, bulan depan, permintaanku tak berat kok”
“Beratpun, kan kuturuti, apa sih yang tak bisa kuberikan pada seorang gadis manis secantik dirimu, Appara?”
“Tak lucu, tolong!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s