Beranda » Kategori » TORSA » Cerita masa lampau…

Cerita masa lampau…

7/8/12 23.50wib

Semakin larut. Jam tangan bututku menunjukkan 23.00. Kami tinggal berempat di emperan ruko ( baca: Gereja ) ini. Belum ada tanda-tanda beranjak pulang. Biasanya, bubaran latihan koor, nongkrong sebentar, menghabiskan sisa kopi, menyulut sebatang rokok dan lainnya. Sesekali kami tertawa, bahkan hingga mengeluarkan airmata. Sedih apa gembira, sih?, tertawa kok mengeluarkan air mata?. Ya, saking lucunya.  Ada saja hal yang menarik untuk dibicarakan.

Bermula ketika seorang teman bercerita tentang penyakit anak tetangganya.

“Ah, jaman sekarang sangat gampang sakit, gerimis sedikit, sudah sakit. Main di terik matahari, sakit. Jaman kita dulu, satu hari di punggung kerbau pun tak sakit. Minum dari pematang sawahpun, sehat-sehat saja, bahkan makan ubi mentahpun tambah sehat. Mana pernah minum air matang?” kataku menimpali.

“Betul lae, kalian kenal hudi?”
“Kenallah lae, rimbang, harimonting pun masih awak kenal, hudi itu ulat pohon kelapa, enau yang membusuk, kenapa?”
“Itu kan makanan favorit dulu”
“Itu masih lumayan lae, kami?, mamulut rimbur, sihapor, bortung, ulok” kataku lagi
“Anak tikus yang masih merah pun dimakan” kata kawan yang satu lagi.
“Dikampungku, ulat daun pisang pun di makan”
“Di kampungku, tikus sawah, bojak, dimakan”

Satu persatu kawan-kawan ini menceritakan kisah hidupnya yang memilukan itu. Anehnya, hampir semua sama, padahal, di bonapasogit, tidak berdekatan. Toba, Siantar, TanahJawa dan saya sendiri di Pakkat. “Ai, nunga songoni tikkina angka lae. Diboto hamu do?” kataku

“Huajari do anggikku marsahit, asa mangan indomi hami, boha muse ma i?” kataku, yang lain ngakak
“Nataboan marsahit najolo, Lae” kata amani Porlen
“Olo bah, tor loppa do indomi jala di tuhor lemon. Indomi itu makanan mewah” kata amaniMarhasak.
“Dung marsahit pe iba, asa ni dai sardensis” ujar amaniPorlen bersemangat, lalu ngakak lagi
“Diboto lae do?” kata amaniPorlen
“Ah, dia ma huboto i lae, so didok hamu dope” jawabku sekenanya

“Dijo indomi mi, molo marsahit au annon, hulean pe diho, kataku pada adekku yang sakit” ujar amaniPorlen, berkisah ketidak adiknya sakit, lalu ibu mereka memasak indomi untuk makanan si Adik.

“Hami dope lae” kata amaniBasiha, yang sedari tadi hanya menyumbang tawa
“Berebutan kulit jeruk. Maklum saja, tak pernah makan buah. Jadi kulit jeruk yang masih berminyak itupun diperebeutkan untuk diendus-endus”
“Bah, yang paling parah lae” kataku. “Kulit pisang pung dibagi rata. Sisi dalamnya dikelupas lalu dimakan, dan dagingnya digigit kecil-kecil dan dibagi-bagikan” kami tertawa lagi

“Lihatlah lae, anak SMA sekarang, mencuci kolornya sendiripun tak mampu. Bandingkan dengan kita. Aku lae, umur sembilan tahun sudah tiga ekor karbau ku gembalakan, dan sepuluh itik tanggung jawabku, kami bergantian. Saban hari, tiga goni rumput harus di penuhi. Kadang kalau ku ingat, sedih juga. Badan masih semeter tapi harus memikul karung goni penuh rumput yang beratnya tiga kali berat badan ku” ujar amaniBasiha dengan mimik serius

“Iya lae, tak jarang, masih pakaian sekolah sudah mencari rumput, akulah itu” timpalku
“Dikampungku, nyari arsam lae, untuk ternak babi, asar ni babi”
ujar amaniPorlen. “Timbunan arsam itu kita pikul, hingga menutupi seluruh badan. Seolah gundukan itu berjalan sendiri, kalau dilihat dari jauh, seperti kura-kura raksasa” ujarnya ngakak.

Canda tawa kami masih berlanjut. Aku merenung, memang jaman sudah berubah. Berbahagialah orang yang punya masa kecil walau pun getir, namun indah untuk dikenang.

Marudut dope……….

2 thoughts on “Cerita masa lampau…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s