Beranda » Kategori » Parsorion » Kisah Belebas Panjang

Kisah Belebas Panjang

Ayahku, OppuPartogi doli seorang pensiunan guru SD. Jabatan (?…..hehehe kayak pejabat negara saja) terakhirnya adalah Kepala Sekolah, di salah satu unit SDN di sudut kota Pakkat, SDN Pulobali. Menjadi kepala sekolah pekerjaan yang paling menjengkelkan sekarang ini, dimana setiap kegiatannya selalu dimata-matai bahkan dicurigai menyimpang oleh Oknum LSM dan Oknum Wartawan yang ujug-ujunya masalah amplot berisi ringgit sitio suara.

Sebelum Kepala Sekolah, beliau mengajar anak-anak seperti biasanya guru lain. Yang ku tahu, pernah menjadi guru kelas satu hingga kelas enam. Jaman itu memang, guru harus bisa semua mata pelajaran. Tidak seperti sekarang ini, ada spesialisasinya. Bahkan penjaga sekolah pun dimanfaatkan menjadi guru. Inilah keanehan negara ini. Banyak tamatan IKIP, sekolah guru yang menganggur, tapi disisi lain, sekolah-sekolah kekurangan guru. Alasannya, melamar guru sangat susah. Butuh uang sogokan yang besar. Menjadi guru honor pun tidak jaminan. Karena guru honor dibiaya dari pungutan kepada murid. Itu jaman dulu.

Nama sekolah dimana beliau pertama sekali mengajar adalah SD Negeri Banuarea.

Aku lebih banyak mengetahui aktivitas beliau di sekolah ini daripada disekolah dimana beliau penisiun, SDN Pulobali Pakkat, padahal sekolah ini hanya berjarak 500 meter dari rumah kami di Pakkat.

SDN Banuarea adalah satu-satunya sekolah di desa itu. Sekolah yang berlokasi paling tinggi di kampung itu, bahkan dari seluruh kampung yang ada di Kecamatan Pakkat. Bayangkan, sekolah ini persis berada di kaki Dolok Pinapan, +/- 1500m DPL. Suasananya dingin tapi sejuk. Dibelakang sekolah itu ada bondar,–selokan air– yang dialiri air bersih, langsung dari perut Dolok Pinapan. Dulu, aku sering minum langsung dari bondar itu. Tak perlu di masak. Sangat jernih dan bersih.

Selama dua puluh lima tahun lebih, ayah berjalan kaki saban hari. Pergi pagi, pulang petang ke rumah kami di Desa Pulogodang yang berjarak kurang lebih 20km. Kami tinggal di desa tetangga, karena inong, OppuPartogi boru juga seorang guru yang mengajar di desa kelahiranku, Desa Pulogodang.

Ayah sering membawa oleh-oleh berupa Tongkat Mallo. Hotang,–Rotan–besar yang ujungnya di bengkokkan. Menurut cerita beliau, tungkot ini dipesan kepada seseorang yang biasa kupanggil amangboru. Amangboru ini seorang petani kemenyaan di Dolok Pinapan.

Sedikit cerita, tongkat Mallo,–rotan besar–ini dibengkokkan secara alami ketika masih tumbuh. Ujungnya yang masih muda dibengkokan, lalu ditunggu kita-kira dua bulan, seiring dengan pertumbuhanya akan menjadi keras, dan siap untuk dipotong.

Ada hal yang membuatku menuliskan ini.

Dua hari lalu, aku bertemu dengan muridnya. Singkatnya, berawal dar perkenalan kami ketika ada perkumpulan sesama par-Pakkat di Bekasi. Aku menyapa, seorang ibu muda. “Sian dia hutanta, ito?,–darimana kampungmu ito?”
“Pakkat, ito” jawabnya singkat
“Au pe par-Pakkat do” kataku, “dimana di Pakkat?”
“Bah, ido?, au di huta-hutanai do ito,—aku di kampungyanya lagi ito”
“Ah, ai so adong be huta-huta di Pakkat, nga kota sude–tak ada lagi kampung di Pakkat, sudah kota semua” jawabku sambil terbahak.
“Iya ito, hami di Banuarea do”
“Banuarea?”
“Olo ito, hea ito sian i?–Ito pernah dari sana?”
“Hea ito, jotjot najolo. Ai di si hian natua-tua i mangajar, jei olo lau au tusi. –Pernah ito, dulu waktu kecil aku sering kesana. Bapak saya guru disana”
“Ise ma natua-tuai, atik na guruku hian do.–Siapakah beliau, siapa tahu guruku dulu”
“Ido, gurum do i. Holan i do Marga Lumban Gaol guru disi, par Pulogodang. —Ya, beliau pastilah gurumu. Hanya beliau marga Lumban Gaol guru disana. Tinggalnya di Pulogodang”
“Oh…hutanda hian ito, tulanghu do i. —Ya kenal sekali ito, beliau tulang saya”
“HUjalang ma jo ho ito, au ma ankna siakangan baoa. –Kusalam dulu kau ito, akulah anaknya paling besar” kataku seraya menyodorkan tanganku.
“Najingaran i tulang i ito….Beliau itu guru killer ito”
“Ah, ito…unang tor dok songoni jo, rahasianta ma i. —Ah ito, jangan bilang begitu, rahasia kitalah itu” kataku terkekeh.
“Olo ito. Ai ganup ari sarapan balobas hau do hami ito.–Iya ito, saban hari kami asarapan pukulan rol kayu itu”

Aku langsung teringat, ayah ini paling sering nenteng belebas panjang yang terbuat dari kayu. Rupanya bukan buan menggaris, tapi untuk memukul. Bahkan, saban senin, ari Onan di Pakkat, beliau sering beli belebas kayu yang panjang itu. Aku ketawa dalam hati.

“Suhuthon jo ito.–Ceritakan dulu perilaku ayahku itu ito”
“Sude do ra muridna hea di balbal on. Dang baoa dan boru-boru, anggo tanggurung i, ikkon mallabab. —Mungkin semua muridnya pernah dipukulnya. Punggunya pasti kena hantaman belebasnya, laki-laki dan perempuan”
“Hah?, boru-boru pe?.–Hah?, perempuan juga?”
“Olo dang adong bedana. —Iya, tak ada bedanya”

Kami pun bercerita panjang lebar tentang. Ibu muda boru Nainggolan itu mengisahkan ‘ayah’ dengan ‘cara mengajarnya’ di kelas. “Tak mungkin beliau memukul tanpa sebab” kataku, ketika dia menyudahi kisah itu. Bukan bermaksud membela. Hanya beropini.
“Iya sih, ito, mungkin karena kami bodoh, dan harus bisa, harus pintar. Apalagi Matematika ito, semua pasti dapat ‘kue belebas panjang’. Kalau pelajaran lain, beliau tak pernah marah” kenangya.
“Apa ito pernah dendam pada ayahku?” selidikku
“Tidaklah. Ngapain dendam. Mungkin kalau tidak begitu kami mana bisa mengerti”
“Syukurlah. Seandainya dendam pun, aku menerima itu. Dan aku rela minta maaf mewakili beliau karena pernah membuat kalian menderita”
“ha..ha…ha” dia terbahak.
“Ito, bukan hanya ito yang mengaku mendapat perlakuan kejam dari ayah. Di jakarta ini, aku sudah menemui lebih dari lima orang, dan semua menceritakan hal yang sama”
“Iya ito, semua muridnya pasti pernah mendapatkan ‘hadiah’ dari tulang itu”
“Iya ito, semoga dalam hati kalian tidak ada dendam”
“Tidak ada ito”
“Secuil, segenggam, setumpuk, seonggok, tidak dendam?” ujarku memastikan
“Tidak ada ito” dia kembali menegaskan ucapanya.”Eh…ito, berarti kita pernah dulu bertemu. Mungkin ito masih anak-anak. soalnya kami pernah kerumah ito, membantu panen padi dan marsoban” ujarnya.

Aku mengiyakan.
Ketika panen tiba, atau musim mencari kayu bakar. Beberapa anak kelas enam dari SD Banuarea ikut membantu kami. Semoga itu iklas, bukan karena menghidari belebas ayah.

Beberapa kali bertemu dengan muridnya dulu. Satu hal yang selalu terpatri dalam ingatan mereka adalah Kisah Belebas Panjang ini. “Najingaran i” itulah kalimat yang mereka ucapkan kepadaku.

Sekarang ayah sudah pensiun. Hari-harinya diisi dengan belajar komputer di rumah, juga membantu inong menyelesaikan permasalahan gedung sekolah inong yang sedang di rehabilitasi. Mungkin, tak salah saya menyampaikan permintaan maaf bagi sahabat FB khususnya kepada teman-teman yang pernah menerima hantaman belebas panjang beliau. Akan kuTAG beberapa sahabat dibawah ini, mengingatkan mereka akan kenangan 35 tahun lalu. Itulah sekelumit cerita ayah

2 thoughts on “Kisah Belebas Panjang

  1. Mungkin gogom manullang pe hea do hona balobas, saonari ibana di hutanami sintang kalbar, asal ni ibana sian banuarea. Hahaha, aupe heado songoni dibahen gurukku di sd panjadian aeksopang, alai dang dendam ahu, mauliate ma tuakka guru namangajar murid nakeras alai gabe marhasil saonari.

  2. Kisah Belebas Panjang..kenangan tikki gelleng, sada nai lae molo di SD Panggugunan digalmit pipi kiri ditampeleng pipi kanan, ale molo namboru guruku Br Manullang dang hea dope ba, ala masa dope mardikkan..LOL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s