Beranda » Kategori » True Story » Kisah Ikkan Robus

Kisah Ikkan Robus

Sebelum kutuliskan kisah ini, mohon maaf bila dianggap kurang sopan, terkesan ‘jorok’ . Tak lain, hanya untuk mengingatkan kisah masa lalu. Bagi sahabat UPPER TERTI PAIF manang diginjang ni 35 taon, mungkin pernah mengalaminya.

Marbadai alani Te.
Berantem gara-gara tai.

AmaniPukka punya empat orang anak. Yang paling bontot adalah si Jatikkos. Siampudan yang paling dimanja oleh NaiPukka. Dikampungya, hanya sekali seminggu Onan ( Red, Pekan, pasar ), sama halnya di kampung lain di bona pasogit, kala itu. Bila tiba hari selasa, maka ikan asin yang mereka makan masih lengkap, dari kepala hingga ekor. Hari ke tiga hingga ke tujuh, hanya ulu ni gulamolah,–kepala ikan asin, yang tersisa.

Sehari sebelumnya adalah Onan, dimana amaniPukka martulak, menyetor getah karet ke tokke. Hasil penjualan getah karet inilah yang mereka andalkan untuk memenuhi kebutuhan selama seminggu, khususnya sembako.

Betapa senangnya hati siJatikkos Senin malam itu. Mereka akan makan enak. Seekor dekke robus,–ikan rebus– besar menari-nari dalam bayangannya. Menu ikan robus adalah makanan paling mewah kala itu. Ikan robus yang panjang itu dibagi enam. Masing-masing dapat bagian seperenam, NaiPukka sangat ahli dalam hal bagi-membagi ikan ini. Sebenarnya, NaiPukka membeli dua ekor. Kira-kira setengah kilo. Yang satunya dia simpan ditempat paling tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapapun. Itu untuk lauk amaniPukka. Dekke ni Bapa.

Bapa, among, ayah, merupakan sosok yang paling disegani, ditakuti, dihormati, diutamakan dalam satu keluarga batak. Dia punya hak-hak atau perlakuan khusus yang tidak dimiliki anggota keluarga lainya.
Dekke ni bapa.
Piring /pinggan ni bapa.
Mandari ni bapa.
Indahan ni bapa.
Galas / mangkok ni bapa.

Dan banyak lagi ‘hal-hal khusus’ punya bapa. Tak seorang pun anggota keluarga, selain bapa sendiri yang boleh menyentuh semua milik bapa,–among, itu.

Bahkan, sering kejadian, anak-anak dan istrinya harus sabar menunggu kehadiran seorang bapak yang sedang asyik main catur di lapo, sementara makanan sudah tersedia di depan mata.

“Jou bapa, asa mangan hita,–panggil ayahmu, supaya kita makan” kata emak. Pun perut sudah sangat lapar, tapi kita harus menunggu ayah, untuk makan bersama. Sekarang ini, ada atau nggak ada ayah di rumah, siapa lapar dia makan duluan.

Yang menjengkelkan, catur ayah belum menunjukkan tanda-tanda selesai. Matanya nanar memelototin buah caturnya. Disudut sana, percis di tangga lapo itu, siappudanya itu mematung. Memanggilnya sekali saja. “Bapa, beta mangan”. Hanya sekali. Sebab, lebih dari sekali, upahnya bisa kena gampar di rumah. “Pailahon ho” katanya.

Bagian mana yang paling enak dari ikkan robus?. Tenana. Taiknya. Ya, taik ikan rebus itu. Rasanya sepat-sepat gurih. Dan inong pun membagi taik ikan rebus ini secara merata. Tentunya bagian yang paling banyak adalah milik ayah.

Entah siapa yang memulai perkara, Jatikkos dan Jaholong berantam. Selidik punya selidik, pembagian “taik” ini kurang merata. Jatikkos merasa dicurangi abangnya. Diapun uring-uringan. “Hemmm…”, amaniPukka berdehem, mengisyaratkan supaya keduanya damai.

Bagi keluarga orang batak, makan itu adalah saat yang paling menyenangkan. Maka, tak boleh ada sedikit pun suara keluar, apalagi bunyi suara mengecap makanan. Biasanya langsung ditegur inong, “babami, sai hira parmangan ni hatoban,–mulut mu itu, seperti cara makan seorang budak” itulah yang diucapkan. Ketika kita bertandang ke rumah tetangga, dan mendapati rumah yang sunyi senyap, itu pertanda, keluarga itu sedang makan.

Rupanya, Jatikkos masih belum menerima ketidak adilan yang dia rasakan. Seolah dia protes. NaiPukka cepat tanggap situasiitu. Dia berpikir, jangan sampai kedua anaknya itu menerima hukuman dari amaniPukka.
“Aha dope?” kata naiPukka
Tak ada yang menjawab, hanya isakan tangis Jatikkos yang terdengar.
“Agoyamang. Marbadai hamu alani te i” kata naiPukka
“Nih, nion na, tenakkon allang, haru butong ho,–nih makan, biar kau kenyang” kata naiPukka kesal, seraya menyodorkan taik ikan rebus miliknya, dan menaruhnya di piring siJatikkos.

Itulah kisah taik ikkan robus. Makanan paling mewah dijamanya, dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s