Beranda » Kategori » CERPEN » Menantuku Tukang Tambal Ban

Menantuku Tukang Tambal Ban

Japikkir, amaniMarsaulina, tak habis pikir memikirkan cara berpikir putri tunggalnya Marsaulina Romaito. Satu-satunya pertanyaan yang bergemuruh di kepalanya, dan belum terjawab adalah, bagaimana mungkin ia memutuskan sesuatu yang sangat penting menyangkut masa depanya, tanpa mengindahkah pertimbangan orang tua?. Memutuskan begitu saja, dengan siapa dia menikah. Ya, pernikahan!. Bila ditelusur jauh kedepan maka pernikahan hanyalah satu point yang harus dipertimbangkan. Hal lainnya adalah masa depan keluarga termasuk warisan-warisan berupa beberapa perusahaan yang sedang berkembang pesat kini.
Malam itu, di meja makan berukir indah itu, mereka bertiga terlibat dalam pembicaraan serius.
“Sudah kamu pikirkan dengan matang keputusanmu itu, Inang?”
“Sudah, Pap” jawab Roma, putri semata wayangnya itu
“Lalu, bagaimana dengan permintaan Namborumu itu?”
“Pa, mulai lagi nih?”
“Maksud papa bukan begitu”
“Pa, aku sudah muak melihatnya. Apa Papa bahagia melihatku menikah dengan orang yang paling ku benci”
AmaniMarsaulina membisu.
“Papa kan tahu, aku sudah menuruti keinginan Papa. Nyatanya, papa lihat sendiri, bagaimana dia menghianati kita, bere mu itu” suara Marsaulina sedikit meninggi.
AmaniMarsaulina tak mau mendebat lagi. Ia hanya berharap, bila pilihan Marsaulina kali ini hanyalah main-main belaka, pelampiasan sakit hatinya pada Marihot, putra bungsu namborunya.
“Apa kamu tidak memikirkan nasib perusahaan kita ini, Inang?” suara amaniMarsaulina melembut.
“Maksud Papa?”
“Iya, bagaimana mungkin dia bisa mengurusnya. Atau kamu yang bekerja dan dia dirumah, begitu Boru?”
“Aku semakin tidak mengerti maksud Papa”
“Loh, kamu tahu sendiri, bahkan kamu yang cerita, dia hanya lulusan SMA dari Pakkat”
“Papa, ketika papa datang ke Jakarta ini, apa pernah bermimpi punya perusahaan besar seperti sekarang ini?. Nggak kan?. Bahkan, papa yang cerita, awalnya hanya usaha tambal ban. Lalu berkembang dan hingga seperti ini.”

AmaniMarsaulina membisu. Dalam hatinya, ia membenarkan apa yang Marsaulina ucapkan.
“Dan, setiap orang akan memiliki kemampuan bila dia mau dan diberikan kesempatan untuk belajar. Kemauan dan semangat itu yang utama, Pa” ujar Marsaulina. Kalimat terakhir ini jurus pamungkas Marsaulina. Ia tahu, ayahnya tidak akan mendebatnya lagi, dan ia sengaja mengucapkan itu karena kalimat itu adalah ucapan amaniMarsaulina sendiri kala menasehati dirinya.
“Sudahlah PakButet, tak usah berdebat lagi, tak ada yang salah dengan pilihan Butet?”, NaiMarsaulina lebih senang memanggil putri sematawayangnya itu dengan sebutan butet. Tak ada penjelasan yang masuk akal dengan itu. Semenjak mereka menikah, tinggak di bedeng, hingga menjadi keluarga milliader, sebutan PakButet itu tetap melekat.
“Tak bisa didebat lagi kah?” ujar amaniMarsaulina.
“Tidak usah. Tidak ada hasilnya. Kalau papa menang mendebatnya, mama akan ke Australia memprotes ijajah yang mereka keluarkan. Ya, mana mungkin seorang yang tidak tamat SMP seperti papa, menang mendebat lulusan luar negeri, itu hanya di mimpi” ujar naiMarsaulina, tertawa.
“Masalahnya tidak sesimpel itu, Ma. Ini semuanya ada hubunganya dengan masa depan perusahaan kita, masa depan kita.”
“Itu sih gampang. Sekolahkan saja nanti. Yang penting, hatinya baik, jujur dan setia. Soal kemampuan, itu bisa dipelajari” ujar naiMarsaulina. Dari awal, ia tidak setuju perjodohan Marsaulina dengan Marihot. Selentingan yang beredar, ada hal yang tidak baik, dan kurang berkenan di hatinya, yang ia dengar dari beberapa orang sanak famili. Juga sikap yang ditunjukkan oleh Marihot sangat tidak elok menurut naiMarsaulina. Bahkan, ia khawatir bila perjodohan ini dilanjutkan, bukan kebahagiaan yang mereka berikan kepada Marsaulina, justru sebaliknya. Ia paham betul naluri keibuanya yang berbicara.
“Kenapa tidak bawa bule saja sekalian?” sindir amaniMarsaulina
“Ayah mau?, aku kembali ke Camberra nih, …seperti bukan ayah sangat ke-batakan-itu. Sedikit-sedikit, batak, sedikit-batak, adatlah, inilah, semua harus sepakem dengan adat batak”

AmaniMarsaulina terbahak, perutnya yang membuncit terguncang mendengar ocehan putri kesayanganya.
“Dan permintaan papa, mama, helanya harus batak, kan?”

Akhirnya, satu persatu ruangan di rumah amaniMarsaulina meredup. Hanya suara riak air dikolam buatan itu yang terdengar kini. SeseKli batuk amani Marsaulinan terdengar. Angannya tentang Benget, pria pilihan putrinya, seorang par-tambal ban menghiasi mimpinya. Ia penasaran, seperti apa pria yang membuat putrinya jatuh hati.
Malam semakin menghitam, menyelimut alam raya sesekali kilat menyambar, dan gemuruh menimpali, pertanda akan hujan. “Semoga hujan ini membawa kebaikan pada semua mahluk” ujar amaniMarsinta dalam hati, sembari meanrik selimut tebal itu hingga menutupi seluruh badanya. Ia melingkarkan tanganya pada NaiMarsaulina, dan mencium rambutnya yang mulai memutih.

***
Suara itu mengagetkan amani Marsaulina. Perlahan ia menurunkan letak kacamatanya dan meletakkan surat kabar harian itu. Sesosok anakmuda berkulit legam dengan seulas senyum yang sederhana berdiri dihadapannya.
“Horas, tulang”
“Horas, Ee..e.. ” ujar amaniJapikkir sedikit gugup. Jujur, ini kali pertama dia gugup ketika berhadapan dengan seseorang. Bahkan yang jauh lebih muda darinya. Sosok seperti Benget jauh dari kesan necis apalagi mewah. Pakaian yang dia kenakan terkesan sangat sederhana. Saking sederhananya, terlihat jelas lipatan yang hampir sobek, mungkin karena terlalu sering diseterika. Satu-satunya yang membuat dia tak bisa berkata-kata adalah ketika meradu pandang dengannya. Tatapan anak muda itu sangat tajam, namun teduh. Ada binar-binar semangat yang terpancar di sana. Bahkan dia harus mengakui, kalau pemuda di depanya itu seorang yang jujur dan ramah. AmaniMarsaulina bisa mambaca kepribadian seseorang dari tatapan mata saja. “Pantas saja Marsaulina jatuh hati pada pemuda ini, seseorang yang sopan dan bersahaja” bathin amaniMarsaulina dalam hati.

“Benget namaku, Tulang” ujar Benget memperkenalkan diri.
“Sudah tahu, silahkan duduk” ujar amaniMarsaulina menutupi groginya. Ekor matanya tak lepas mengawasi Benget. Lagi-lagi ia harus mengakui, kalau Benget seorang pemuda yang sangat bersahaja. Tatapan mata Benget tidak pernah lebih dari empat puluh lima derajat. Biasanya, bila ada seseorang yang berkunjung, ada saja hal yang menarik untuk diperhatikan. Dinding rumah yang dipenuhi oleh gorga batak, atau sebuah akuarium besar yang berisi arwana merah membara itu.
“Tunggu ya, Bang”, Marsaulina tiba-tiba muncul di ruang tamu. Dia mengerdipkan matanya pada Benget. Rambutnya yang hitam legam terjuntai menutupi hampir semua punggungnya. Wajahnya yang tanpa dipoles kosmetik itu tampak berbinar. Bersenandung kecil iya menuju kamarnya di lantai atas. Lamat-lamat kedua pria berbeda usia itu mendengar senandung Marsaulina. “Ditakko ho ma rohangki ito, gabe laos tading do di ho,–Kau curi hatiku, dan tinggal bersamamu”. AmaniMarsaulina geleng-geleng kepala, Benget hanya senyum-senyum.
“Dari mana dia belajar lagu itu?” ujar amaniMarsaulina perlahan seolah bicara pada dirinya sendiri.
“Baru sekali ini aku mendengar ia menyanyikan lagu batak, ada yang salah kah?” lamat, amaniMarsaulina bicara. Benget tak berani berkomentar, ia hanya tersenyum. Ia tahu soal lagu itu. VCD itu akhirnya berpindah tangan setelah Marsaulina setengah merayu memintanya dari Benget.
Dua minggu lalu Marsaulina datang berkunjung ke bengkelnya.
“Bang, aku tidak mengerti apa makna lagu itu, tapi aku punya feeling syair lagu itu bermakna bagus”
“Mataku memandangmu, hatiku jadi gelisah, indahnya senyummu, menusuk hati kala memandangmu. Jantungku berdegup kala mendengar suaramu yang merdu, tak tak bisa melupakanmu. Engkau telah mencuri hatiku dan tinggal bersamamu” ujar Benget, mencoba menterjemahkan syair lagu itu.
“Iya,..keren sekali, persis seperti yang kualami sekarang, bisa nggak kasetnya aku pinjam?”
“Eh, bisa..maksudku tidak bisa, begini ito, eh…aku mau bilang, itu bukan kasetku, punya teman” Benget tergagap. Ia berusaha menutupi groginya dengan meraih lap tangan yang teronggok didekat alat tubles itu.
“Sudah ito” ujar Benget, ia baru saja menyelessaikan pekerjaanya menambal ban cadangan mobil Marsaulina.
“Oh, ya?, berapa Bang?”
“Lima belas ribu”
Marsaulina menyerahkan selembar lima puluh ribuan.
“Ito, ada uang pas?, belum ada kembaliannya”
“Gimana kalau kembaliannya pakai kaset itu”
“Hah?”
“Iya, boleh?”
“Tidak, tidak..ya udah, kasetnya boleh ambil dan uang kembalian ito, kalau sudah ada kuantar ke rumah”
“Ngga usah, sama abang saja kembaliannya”
“Nggak, ini uang ito, bukan uangku” ujarnya bersikukuh
“Baiklah…baiklah, kalau tidak mau” ujar Marsaulina. Ini kali kedua pria berpenampilan urakan didepanya itu menolak pemberianya. Seminggu yang lalu, hanya gara-gara uang tiga puluh ribu rupiah, pria bertubuh kekar ini menyambangi rumahya. Ia tahu, kalau uang sisa parkiran itu jatuh di tambal ban Benget. Dan ia sebenarnya sudah tidak mengingatnya lagi, mengiklaskan pada orang yang menemukanya. “Maaf ito, aku tidak bisa menerima uang itu, bukan punya saya” ujarnya kala itu. Selain sopan, jujur dia Benget seorang yang rendah hati. Marsaulina mematung ditempatnya berdiri, sampai tubuh Benget menghilang dari penglihatanya. Ia tidak menyangka, di kota metro politan seperti sekarang ini ada orang baik seperti Benget.
“Boleh minta nomor teleponya, Bang?”
“Untuk apa?”
“Siapa tahu bocor ban di tengah jalan atau di rumah, bisa panggil kan?” Marsaulina mengerlingkan matanya
“Kalau tidak sibuk dan kalau ada yang jaga disini, ito”

Benget tidak menyangka berkenalan dengan Marsaulina, putri tunggal seorang pengusaha kaya raya, bahkan akrab, pun sebatas saling mengirimkan pesan singkat. Benget berusaha menjadi teman yang baik kala Marsaulina bercerita lewat SMS. Ada saja yang ingin diceritakan pada Benget. Dari soal kuliahnya yang hampir selesai di Camberra, Australia, hingga gagalnya perjodohan dengan anak namborunya.
Benget menanggapi setiap curahan hati Marsaulina dengan baik dan menjawabnya dengan bahasa yang sederhana, pun sesekali diselingi kalimat-kalimat guyonan.

 

4 thoughts on “Menantuku Tukang Tambal Ban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s