Sayap-Sayap Patah

Aku mencoba mengepakkan sayapku, mengarungi langit biru, menggapai lebih tinggi lagi. Buluku yang keemasan memantulkan sinar mentari siang. Sungguh, aku menyadari keindahan anugerah Tuhan dengan bulu yang ke emasan, diselingi sirip-sirip biru kekuning-kuningan menambah daya pikat elang lain terhadapku. Belum lagi ekorku yang panjang terurai, membiru dan berkilau.

Semakin ku terbang tinggi semakin kuat hempasan angin, aku sadar aku takkan bertahan lebih lama. Dan ternyata, kelompokku telah jauh meninggalkanku, tidakk peduli dengan apa yang aku pikir dan rasakan ini. Terbang dengan sayap yang patah ini rasanya berat sekali. Namun aku mencoba bertahan untuk tidak jatuh dan menjadi santapan hewan lain.

Terbayang kembali, seperti saat ini, sewaku saya terbang sendeirian setelah luka dibagian pangkal sayap ini mulai membaik, tiba-tiba aku meraskan hempasan angin yang cukup kuat menerpa dari sampingku. Terbang lebih tinggi, lebih tinggi lagi. Aku sedikit menoleh kekanan, elang dengan sayap yang kelihatan kuat dan kekar melempar pandangan kepadaku. Tersenyum dan dengan seksama memperhatikanku. Sorot matanya tajam, bening dan menghujam!.

Bagiku, hidup ditengah saudara-saudarku mengarungi langit biru adalah hal yang biasa, tapi terbang tinggi setelah beberapa kali jatuh sepertinya menjadi hal terberat dalam hidup ini.

“Mari berhenti sebentar,…aku akan menemanimu, aku melihat sayapmu terluka, beristirahatlah sebentar, bulu-bulumu yang indah nanti akan rusak kalau kau paksakan terbang, perlu perhatian, aku akan merawat lukamu, luka bathinmu, luka jiwamu” katanya seraya mencoba mencoba mendekatiku.

Terkadang dia diam menukik, lalu naik lagi, seperti menari di atas awan, melukis di angkasa, seolah tak ada beban dalam hidupnya, sebentar-sebentar menoleh kepadaku, mengikutiku hingga beberapa ratus meter, terlihat kecemasan di wajahnya.

Walau pada awalnya aku tidak mau menerima ajakanya, mengingat belum pernah melihatnya, namun, akhirnya hatikupun luruh juga. Elang emas berjambul hijau kemilau keemasan yang terbang dekat di sampingku. Aku memandang tajam ke matanya. Kutemukan ketulusan dari sana. Memberinya isyarat, dan mengikutinya turun kebawah mencari pohon yang rindang untuk beristrahat dari sengatan panas mentari.

Jauh dari perkiraanku, ternyada dia elang yang cukup baik, perhatian, suka bercanda dan menjagaku dari keusilan elang-elang lain. Akhirnya, tanpa kusadari, kami melaluli hari-hari bersama mengarungi langit biru. Elang muda, keemasan yang setia menemaniku kemanapun sayap ini membawa. Sejenak aku bisa melupakan sayapku yang patah. Bahkan sudah sembuh, mungkin juga sudah makin kuat dan kokoh. Terbang bersamanya sungguh mengasyikkan, kadang dia mengajakku bercanda mengitari awan putih. Memainkan gumpalan awan hitam. Mencoba membawaku kelangit yang lebih tinggi yang walau dalam hati sungguh mengerikan. Dia telah menjadi bagian dari hidup bahagiaku.

Mencoba memberikan pemahaman kalau hidup di dunia ini adalah kehidupan yang sangat buas. Setiap saat marabahaya bisa saja mengancam. Memberikan arah dan memaknai arti hidup dari sudut pandang bebeda. Yang tidak lupa siulan dan kepakan sayapnya memberikanku rasa damai. Gurauan dan candaanya perlahan mengambil tempat dihatiku. Pernah aku berpikir, dia adalah tujuan hidupku setelah sekian tahun saya terbang mencari jati diri.

Setiap saya punya masalah, elang emasku memberikan solusi dan pertolongan kepadaku. Sunggu indah rasanya bila berada di sampingnya. Tak terasa bertahun sudah kami lalui bersama. Mengitari langit biru, bermain di angkasa raya, dan melihat dunia dengan cara kami sendiri.

Suatu hari, aku biarkan dia terbang tinggi sendirian, dari jauh aku memperhatikan kepakan sayapnya. Aku menghayal sendiri, terbawa dalam anganku sendiri. Aku mulai menyadari, kalau kepakan sayap yang berlebihan itu, juga membuatku khawatir jikalau suatu saat sayapnya akan membawanya pergi. Pergi dari duniaku, pergi dari sampingku. Pergi dari hatiku. Sungguh ku tak rela.

“Apa yang kau pikirkan hai elang emasku? aku melihat ada sesuatu didalam pikiranmu….”

Aku tak menjawabnya, hanya mencoba memandangnya dengan tulus, melihatnya dengan hati dan cinta, mamastikan dia masih ada untuk saat ini. Aku selalu ingin bersamanya, menikmati kebersamaan ini dan dan mencoba menyandarkan kepalaku di atas sayapnya yang kokoh. Aku belum siap untuk kehilanganya, sayap-sayap patah ini masih memerlukanya. Membawaku ke danau yang berair bening, membawaku ke padang berbunga dan menuntunku ke lembah nirmala.

Kembali ku terbangkan sayapku setelah beberapa saat berhenti di atas bukit cemara. Sepasang burung bangau tampak bercengkrama ria di pinggiran kolam teapat di bawahku. Ada rasa cemburu bila melihat kemesraan mereka. Aku juga pernah mengalaminya. Aku tak kuasa untuk mengingatnya, tapi bila ku memandang ke bawah, pengen rasanya aku berteriak dan memberitahukan mereka kalau aku juga pernah marasakanya.

Sebentar ku terbang pendek mengitari danau kecil itu, seolah mengucapkan selamat kepada sepasang bangau penjaga danau. Aku terbang dengan deraian air mata. Tak kusangka, apa yang aku kuatirkan akhirnya terjadi juga. Elang emasku telah pergi, pergi entah kemana, meninggalkanku. Ku tak kuas menghalangi kepergianya, tak sanggup untuk menahanya. Dia bukan elang emasku lagi. Aku hanya mampu memandangi punggungnya dihari kepergianya. Hanya deraian air mataku yang menyertainya. Apa sayapku sedang patah?.

Aku tak mengharapkan dia kembali, mungkin kalaupun dia kembali, telah bersama elang lain, elang emas sepertiku disampingnya. Aku membayangkan yang bukan-bukan. Melihat dari dipikiranku sendiri, kalau elang emasku kini sedang bersama yang lain.

Bagaimanapun, sayap ini tak boleh patah lagi, mungkin tak ada elang muda yang akan menolongku seperti dulu, mungkin rasa sakit ini akan sembuh sendiri, ditelan awan hitam dan dihempaskan badai gurun. Awan hitam mulai menggumpal, rintik hujan mulai datang. Aku mencoba mencari tempat perlindungan. Sendiri. Dingin menusuk hingga ke jantung hatiku. Kini tak ada suasana hangat seperti dulu. Aku mencoba mengerinkan bulu-buluku dari butiran air hujan yang sempat menerpaku.

Anganku melayang entah kemana. Berkali sudah elang – elang jantan yang melihat sendiri mencoba mendekatiku, namun sebentar langsung terbang tak mengucapkan salam. Ada rasa lain di dalam hati ini setiapo mereka di samopingku, rasa yang selalu menginatkanku pada elang emasku yang telah pergi. Berkali kutepis anganku sendiri, angan yang membawaku kedalam duniaku sendiri, dunia hayal, dunia yang hanya membuatku semakin terjatuh. Apa ada yang aneh dalam tuhuhku?.

Sayapku masih kokoh, ku mau mengarungi langit biru dan padang yang menghampar luas ini sendiri, mungkin dengan elang emas yang lain, bukan dengan elang emasku yang telah pergi meninggalkan kenangan di hatiku. Yang telah pergi membawa cintaku….

Cikarang

14 dec 2008 pkl 03.40

selamat advent

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s