True Story

Makan Tali Lonceng Gereja

Ayahku Oppu Partogi Doli, St.Damor Lbn Gaol, mungkin, karena seorang guru (pensiunan guru tepatnya), mempunyai kegemaran bercerita. Ada saja ceritanya. Aku suka dengan cerita masa anak-anak beliau. Satu yang tidak bisa kubayangkan. Kalau ada kesempatan selalu kuminta beliau bercerita tentang kisah-kisah itu.

Hari Jumat kemarin beliau ke Medan untuk memeriksa simalolong,-matanya- kembali yang dioperasi dua minggu lalu. Beliau sedikit mengeluh, “Sai hira motor i do hape daging ni jola on ate, peut sada-sada, – Ternyata tubuh manusia mirip mobil, spare partnya rusak satu per satu dimakan usia”. Begitu beliau mengibaratkan kondisi fisiknya yang semakin tua. Setelah ipon (gigi)nya rontok semua, giliran mata yg dioperasi.

Hape, najolo dohot do tali ni giring-giring niallang,-Padahal, dulu sampai tali lonceng gereja pun kami makan” ujarnya.

Beliau memulai kisahnya.

“Dahulu, pada masa pemberontakan Simbolon (Kolonel Simbolon PRRI/Permesta) kehidupan sangat susah, makan daging hampir tidak pernah. Kala itu, oppungku St. Bonar Lbn Gaol, seorang Porhangir (guru huria, red) di HKBP Sitapongan. Setiap hari sabtu sore, ayah dan Bapaudamu disuruh oppung menarik tali lonceng gereja. Tali lonceng gereja ini terbuat dari kulit kerbau yang diiris memanjang dengan lebar dua centimeter mengikuti keliling badan kerbau, sehingga panjangnya bisa puluhan meter.”

“Suatu ketika, seperti biasa, sabtu sore kami disuruh oppung membunyikan lonceng gereja. Dalam perjalanan Bapadamu bilang, naeng mangallang jagal hian au bah, abang.–Aku ingin sekali makan daging, abang–. Lalu muncullah ide untuk kami untuk memotong sedikit tali lonceng gereja itu. Sekitar duapuluh centimeter awalnya. Lalu kami sembunyikan di tombara rumah,–kolong rumah–. Sanking sudah kerasnya, anjing pun tak mau menggigitnya lagi”

“Sepulang dari gereja sekolah minggu, saat oppungku sama oppungmu (ayah beliau) dan semua orang dewasa sedang beribadah, tali lonceng tadi kami masak. Air dipanaskan sampai mendidih, lalu kulit kerbau– tali lonceng- tadi dibakar hingga gosong, lalu dicelupkan ke air yg sudah mendidih itu dan dibiarkan agak lama. Hasilnya, tali lonceng gereja itu membengkak dan melunak lagi, sangat lembut dan teksturnya kembali ke kulit kerbau. Lalu kami bagi dua, dan dimakan pakai garam saja” ujar ayah, Oppu Partogi sembari tertawa mengenang masa kanak-kanaknya lima puluh lima tahun lalu.

“Kami ketagihan. Setiap ingin makan daging, tali lonceng itu kami potong. Hingga suatu ketika, oppung menyuruh kami membunyikan lonceng, dan badan kecil kami sudah tidak sampai lagi menjangkau tali itu untuk menariknya. Kami pun mengadu. Oppung, dang tuk be hami manait giring-giring i, –Oppung, kami tidak sampai lagi ke tali loncengnya. Kami rasa, Oppung tahu kalau tali lonceng itu kami masak dan dimakan, tapi beliau tidak tunjukkan kalau dia tahu. Lalu Oppung mengganti talinya, tentu dengan daging kulit kerbau lagi. Dan sedikit demi sedikit kami potong lagi, dimasak dan dimakan” ayah, oppuPartogi manghiri kisahnya, kala memakan tali lonceng gereja. Kami terbahak bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s