Beranda » Kategori » TORSA » Menanti Kentut OppuJatikkos

Menanti Kentut OppuJatikkos

Malam menjelang subuh.

AmanJatikkos semakin gelisah di lorong rumahsakit bercat putih keabuan itu. Tak terhitung berapa langkah kakinya terayun dari ujung seberang sana hingga ke ujung sini. Jam menunjukkan angka dua, dini hari. Sesekali matanya melongok ke ruangan ICU itu, berharap dokter segera menampakkan wajah dan menjelaskan perkembangan OppuJatikkos, ayahnya. Ini hari ke lima oppuJatikkos terbaring lemah di rumah sakit itu. Lima jam lalu ia tak sadarkan diri setelah menjalani operasi pengangkatan salah satu ginjalnya. Dan selama lima jam ini pula untuk Dokter Spesialis Bedah, Dr Kuntoro berjaga sepanjang malam. Untuk ukuran umur OppuJatikkos yang sudah memasuki usia tujuhpuluh tujuh tahun, operasi ini tergolong beresiko. Selain ia mengidap penyakit jantung, kadang gula darahnya juga tidak stabil, yang lebih parah sebagian dari ususnya sudah dipotong beberapa tahun lalu. Kini, setelah ada kesepakatan bersama  dari anak-anak OppuJatikkos dan kemauan dirinya sendiri, operasi ini pun dijalankan. Ini satu-satunya cara menyelamatkan jiwanya karena dikhawatirkan infeksi pada salah-satu ginjalnya bisa menyebar dan merusak organ tubuhnya yang lain.

Tak terlepas dari bujuk rayu AmanJatikkos, “Pa, hanya ini satu-satunya cara untuk memperpanjang umurmu. Memang Tuhan punya kuasa, tapi kita manusia harus berusaha, bukan”, ujarnya kala itu. OppuJatikkos menolak berobat lagi dan lagi, bahkan harus operasi kembali. Seingatnya ini yang ketiga kali, bila harus dibedah. “Aku sudah pasrah, Amang. Biarlah Tuhan yang berkehendak, aku sudah cukup bahagia bisa mengenal cucu-cucuku” ujarnya menolak usulan amanJatikkos.

Itulah muasal operasi pengangkatan ginjal OppuJatikkos.

AmanJatikkos dikagetkan derit pintu ruang ICU, sesosok berjubah hijau kebiruan dengan penutup wajah dan kepala melangkah tergesa. “Bagimana, Dok?”

“Belum,… belum kentut” jawab dokter singkat, berlalu dengan tergesa dari hadapan amanJatikkos.

Lima jam yang melelahkan bagi dokter Kuntoro menunggu kentutnya OppuJatikkos, dan sama lelahnya juga bagi amanJatikkos. Pun, tak ditunjukkan di wajahnya. Rasa khawatir  telah menutupi lelahnya itu. Ia sendirian berjaga hingga selarut ini. Ini kesepakatan keluarga, bahwa mereka bergantian akan melakukan tugas jaga di rumahsakit itu.

Menurut dokter, kentut sangat berhubungan erat dengan status seseorang yang baru selesai dibius total karena tindakan bedah. Katanya, kentut adalah respon nyata yang menandakan organ perut sudah berfungsi normal kembali setelah beberapa jam di’matikan’ oleh bius yang disuntikkan. Itulah sejarahnya, ketika seorang pasien yang sedang diperasi dengan tindakan pembiusan total, maka dokter sangat mengharapkan si pasien segera kentut. Malah dokter sudah memperhitungkan kapan, berapa jam  sipasien akan kentut pasca operasi. Dunia kedokteran yang sudah untuk dimengerti. Sebagai orang awam, AmanJatikkos hanya mengiyakan saja.

AmanJatikkos merebahkan dirinya di kursi, menunggu entah apa yang akan terjadi pada ayah yang sangat dikasihinya itu. Ia meraba kantong jaketnya, meraih hand phone yang sadari tadi mengeluarkan bunyi pesan pendek diterima.

Dari anggi borunya, NaiHalasson “Amang, nga boha perkembangan ni amang i, nunga muttut?—amang, bagaimana perkembangan ayah mertua, sudah kentut?”. Lalu dijawabnya dengan singkat, dang dope muttut inang,–belum kentut, inang.

Pesan kedua dari Nantulangnya ParBatam, “Horas bere, nunga sadar amanagbao i?—Horas Bere, apa amangbao itu sudah sadarkan diri?”, dan diapun menjawabnya dengan sangat singkat, “Belum nantulang, belum kentut”.

Semua kerabat menantikan kentut OppuJatikkos. Bahkan, OppuSardo, Kepala Desa Huta Hamonangan sengaja bertelepon tengah malam seperti tiga jam lalu, menanyakan hal yang sama, “Jei, nunga muttut Lae i?,–Jadi, sudah kentut lae itu?”.

Tak luput, beberapa orang anggota DPRD meneleponya. Mereka menganggap, OppuJatikkos adalah seorang tetua adat sekaligus guru sipiritual yang pada akhirnya orang yang bisa mendulang suara bagi mereka. “Hatop paboa hamu molo nunga muttut amang i, Lae. Asa unang holsoan hami nadihuta.—cepat kabari keadaan amang itu, kalau-kalau sudah kentut. Kami, dikampung ini merasa khawatir”.

Orang sekampung pun memperbincangkan kentutnya OppuJatikkos ini di Lapo Mardongan, tempat mereka bisanya menghabiskan waktu dimasa pensiunnya. Semenjak amanJatikkos menerangkan perihal kentut ini kepada mereka, menjadi topik pembicaraan yang hangat di seantero kampung. Bahkan sudah kalah dengan gossip-gossip politik yang beberapa hari lalu menghiasi pembicaraan di Lapo, bahkan di ruang konsistori gereja, di partangiangan parsahutaon, hingga di Pancuran tempat permandian umum.

Orang-orang itu akan mengiyakan saja. Mereka belum pernah melihat bagaimana proses pembedahan berlangsung. Satu-satunya orang yang sudah pernah dibedah berkali-kali,–dioperasi, istilah yang lebih awam didengar—hanyalah OppuJatikkos. Bahkan, ketika amanJatikkos menerangkan kalau di jantung ayahnya akan dipasang ballon sebagai penyumbat kebocoran jantung, angan mereka, pengunjung lapo, yang kebetulan mendengar suara amanJatikkos dari speaker phone yang sengaja dibesarkan OppuSardo, ballon untuk jantung itu sama persis dengan ballon untuk mainan anak-anak yang dijual tukang loak, parbutut-butut.

Ternyata, semua orang merindukan OppuJatikos, merindukan sosoknya yang hangat menyapa setiap orang yang berkunjung di Lapo itu. Merindukan kelekarnya yang spontan dan tidak menyinggung perasaan yang mendengar.

Tak hanya orang sekampung, di Konsistori Gereja pun hal yang sama dibicarakan oleh rekan-rekan OppuJatikkos sesama sintua. “Nunga sidung be operasi, alai dang dope muttut, ai ikkon muttut do ninna paboa naung hipas,– Operasi sudah selesai, tapi belum kentut. Kentut itu kata dokter pertanda sudah sadar.–”

 “Molo nunga muttut Lae i, pabao hamu dah, bere.—Kalau lae itu sudah kentut, tolong beritahu kami”, ujar OppuSaroha, Vorhanger gereja itu mengakhiri pembicaraannya.

Dokter Kuntoro kembali keruangan ICU, didampingi dua orang perawat sembari membawa sebuah koper. AmanJatikkos terbangun dan dari rebahanya dan mengekor dari belakang, pun nanti hanya bisa menonton dari balik kaca pintu itu.

Dua jam telah berlalu, angka jarum jamnya menunjukkan setengah enam pagi. Pagi telah meremang, beberapa keluarga pasien terlihat hilir mudik dilorong sebelah sana. Dan serombongan perawat berpakaian putih bersih terdengar berceloteh, mereka akan melakukan pertukaran jam kerja dengan petuas malam hari. Lamat ia mendengar suara dokter berguman tidak begitu jelas. Mungkin karena didalam ruangan dan juga mulutnya yang ditutupi masker. Ia menajamkan pendengaranya dengan mendekatkan ke celah pintu yang terbuka sedikit. “Perkiraanku, hari ini sudah harus sadar penuh. Pasien ini harus kentut”.

Jam enam kurang tiga menit, Dokter Kuntoro keluar dari Ruang ICU diikut oleh kedua perawat tadi. Seorang diantaranya sibuk menuliskan resep obat yang harus diberikan kepada OppuJatikkos.

“Gimana Dok?”
“Sudah, sudah kentut, beliau sudah siuman, sekarang sedang tidur” jawabnya dengan sulas senyum menghiasi wajahnya.
“Terima kasih, Dok, terimakasih..” ujar Amanjatikkos, hampir bersorak kegirangan.

Ia berlari kecil ke pintu ICU itu, dan melihat ayahnya yang tertidur pulas. Gerakan dadanya yang turun naik terlihat jelas dari dinding kaca itu. Dan dilihatnya alat pembaca kecepatan aliran darah, tensi meter juga berjalan dengan stabil. AmanJatikkos merogoh kantong nya, bermaksud mengirimkan berita gembira ini. Beberapa nama dipilihnya dari daftar contak telepon itu. Tulangnya Parbatam, OppuSardo, Amansaroha, semua adik-adiknya, dan beberapa kerabat yang sudah memberikan perhatian pada perkembangan kesehatan OppuJatikkos. “Nunga muttut be Bapa, jala nunga sadar.—Ayah sudah kentut, dan sudah sadar”, itulah isi pesan singkat yang dikirimkanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s