Beranda » Kategori » Parsorion » Doa

Doa

Ada sepasang suami istri yang baru hitungan bulan menikah. Ketika mereka mendaftar menjadi jemaat salah satu gereja, ketika itu pula sang penetua yg menerima mereka meminta kesediaan keluarga kecil itu sbg tuan rumah untuk malam doa mgg dpan.

Jujur, Jatikkos ingin berdalih. Ia mencoba melempar pandang pada Melati istrinya, mengisyaratkan spy sang istrilah yg mengucapkan kalimat penolakan. Ternyata, Melati mengiyakan. “Nauli amang“ katanya.

Hari partangiangan atau malam doa itupun tiba. Melati melirik jamnya. Sang suami belum menunjukkan batang hidungnya, sementara jemaat dan juga penetua yang memimpin malam doa tersebut sudah sedari tadi berkumpul.

Mereka dengan sabar menunggu tuan rumah.
“Iya, udah di jln tol, mulai saja“, bunyi SMS Jatikkos. Ia hendak menuju pulang.

Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, kebaktian mgguan itupun dimulai. Tepat jam 8.30 malam. “Mandapoti ma nasida“ ujar sang penetua.

Pertengahan acara, Jatikkos muncul. Lalu mengambil tempat duduk dekat pintu, seraya mengisyartkan supaya acara dilanjutkan.
“Doa dari tuan rumah“ ujar penetua tiba-tiba.

Seketika, wajah Jatikkos memucat.  Sebenarnya, alasan keterlambatanya adalah menghindar dari berdoa. Ia tahu bakal ada doa dari tuan rumah. Ia sengaja melambatkan laju mobilnya, hitunganya, begitu sampai ke rumah sudah acara ramah tamah. Dia memperkirakan, kalau acara dimulai jam 8.30 maka satu setengah jam berikutnya sudah selesai. Tepat ketika ia sampai dirumah.

Meleset!.

Keringat dingin membasahi wajahnya. Matanya mencari2 Melati, istrinya. Setali tiga uang, sang istri jg menghindar. Ke dapur, pura-pura menyiapkan minuman ala kadarnya. Dan dia juga grogi kalau berdoa.

Akhirnya Jatikkos memaksakan diri, lalu ia berdiri dan dengan terbata ia memulai menyusun kata-demi kata didalam hatinya dan berujar “Eee…..berdolah kita“ diam sejenak. Sedetik, dua detik, duapuluh dtik, hingga semenit. Hening.

“Martangiang ma hita,….“ diulangi dalam bahasa batak, lalu terdiam lagi. Ia membuka matanya sedikit, dipojok sana Melati melakukan hal yang sama. Jatikkos menggeleng, mengatakan dia tidak sanggup melanjutkan doa itu. Melati juga menggeleng, lalu kembali menunduk.

Jatikkos pun berdoa, dipaksakan. Dia mencoba mengingat ingat hapalan doa Bapa Kami, tdk bisa!.
“Ale Tuhan, pasu-pasu ma Debata….Ee…e“ terdiam lagi, menyadari kesalahanya.
“Ale Debata, anak ni Jesus Kristus….“ ujarnya. Terdiam lagi. Tiba2 didengarnya ucpan, tarbalik do i.

Dia terdiam. Jemaat sudah gelisah dan cekikikan menahan gelak.
“Agayamang maol nai, metmet au on baen ias rohakkon,….Amen Ma“ ujarnya, lalu duduk. Jemaat tak kuasa menahan tawa. Jatikkos oh Jatikkos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s