Ayah

ayhkuSebenarnya, banyak hal yg ini kutuliskan tentang ayah. Setiap memandang foto ayah, semakin bertambah banyak yg ingin kutuliskan, ribuan, jutaan mungkin takkan sanggup memori otak ini bila harus menuliskan tentang ayah.

Aku ingin memulainya dengan jas.

…Suatu ketika, 25 tahun yang lalu, ayah bilang kalau jas bekas Jerman itu lebih bagus kualitasnya dibanding buatan lokal oleh tukang jahit di Pakkat. Kala itu populer istilah Burjer, singkatan dari buruk-buruk jerman atau baju bekas dari jerman. Aku yg tak paham soal jas manggut saja. Dalam benakku, memang segala hal yg diproduksi di eropah pasti lebih bagus.

Di Kota Pakkat ada beberpaa tukang jahit jas terkenal, seperti Royal Simatupang, tulang Sihite, si Nias dan lain2.
“Pun ini jas bekas, karena buatan Eropah, dijamin kualitasnya baik”, imbuhnya. Lalu menunjukkan jas “barunya” bak peragawan.

Saya pernah melihat ayah menawar jas. Setelah deal, uang seribu limaratus pun pindah tangan.

Ayah, yg seorang penetua gereja butuh satu atau dua jas, dipakai bergabtian. Disela professi sebagai pengajar SD, ayah sering didaulat menjadi kepala parhobas bila hula2 marulaon, dan Raja Parsaut bila na marulaon horong klan Naipospos marulaon. Tentu saja, butuh penampilan yg sedikit berbeda. Itulah kegunaan jas-jas “baru” itu.

Aku baru menyadari makna ucapan “kualitas jas buatan eropah lebih mahal” ketika saya kuliah.
Dalam waktu bersamaan kami, tiga orang dari 5 anak2 nya kuliah di Medan.
Gaji seorang guru SD apakah cukup untuk menguliahkan 3 orang anak plus 2 orang adik saya SMA dan SMP?.

Kalkulator Ayah lebih cepat dan lebih canggih soal bagi membagi gajinya. Terbukti, selama beberapa tahun kami silih berganti kuliah sekali tiga orang,hingga semuanya tamat sarjana.

Rupanya ilmu bagi membagi inilah yang membuat ayah tidak bisa membeli jas lokal yg kala itu harganya sekitar 500ribu.

Lima tahun lalu, ketika aku pulang ke Pakkat, aku melihat lipatan2 kain tak dipakai lagi disalah satu pojok lemari. Ternyata tumpukan jas-jas ayah yang buatan jerman itu. Semenjak kami sudah lulus kuliah, sejak itu pula ayah memensiunkan jas jermannya.
“Kenapa jas2 ini tidak dipakai, Pa. Apa karena tidak muat atau sudah kalah mode?”
Ayah bilang, bukan soal itu. “Nga diantusi ho be i”, imbuhnya, lalu kami tertawa. “Kenang-kenangan” kataku.

Memang, saat kami anak2nya melangsungkan pernikahan, ayah sudah beralih ke produk lokal.

Lihatlah foto ini, Ayah masih tampan memakai jas, bukan?. Sekarang, dihari tua nya, ayah memokuskan diri melayani di ladang Tuhan menghabiskan waktu pensiunya sembari sesekali ke ulaon adat. Jas nya kini sudah produk lokal.

Apakah betul jas lokal itu tidak lebih bagus dari buatan jerman?, hanya ayah yg tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s