HATA SO PISIK

Bernazar

image

Kemarin sore, saya dan dua orang teman terlibat obrolan serius yang santai. Kesibukan buat laporan akhir minggu membuat penat pikiran. Mereka merokok, saya tidak. Saya menunggui mereka sholat di musholla lantai 2 kantin itu. Persis di belakang kantor kami ada kantin baru yang didisain bagus, bersih dan nyaman. Salah satu pokok pembahasan santai itu adalah seberapa pentingkah mempunyai keturunan.

Sebagian besar orang yang menikah diusia normal, sebut saja misalnya 20 hingga 45 tahun sangat mengharapkan keturunan, anak. Lain halnya bila pernikahan diusia senja, mungkin saja ada beberap faktor mengapa harus menikah diusia itu. Saya membiarkan diriku menjadi objek diskusi. Walau mereka berbeda keyakinan denganku saya tetap menghargai pendapat mereka meski didasarkan pada keyakinan yang berbeda. Saya Kristen, mereka beragama Islam.

Ada kenikmatan tersendiri ketika mereka membombardir saya dengan bermacam pertanyaan. Dari usia, mereka terpaut jauh. Tapi keduanya sudah punya anak. Itu kelebihan mereka.

Menurut mereka, selain faktor kesehatan, jiwa, pikiran, pisik, ada hal-hal tersembunyi di alam raya ini yang bisa menghambat kehadiran seorang anak. Dalam ajaran Islam hal sperti itu ada, kata mereka.

Misal, hal-hal yang berhunbungan dangat orang yang dekat dengan kita. Ayah dan ibu. Apa pernah abang menyakiti hati Ayah, Ibumu?, atau istri abang menyakiti hati orang tuanya?, tanya seseorang.

Aku terdiam sejenak

Mengingat-ingat apakah ada yang membuat hati orangtua tersinggung, marah dll.
Setahuku, tidak ada!, kataku setelah diam beberapa saat.
Tapi saya akan saya telpon mereka nanti, memastikan akan hal itu, imbuhku.

Demikian juga istri abang, harus diingat dulu. Kalau abang tadi mengatakan secara medis tidak ada hal yang menghambat kehadiran seorang anak. Memang saya sampaikan bahwa setiap pemeriksaan medis, tim dokter selalu bilang tidak ada masalah.

Saya juga percaya, berkat dan doa orang tua adalah satu hal mutlak dalam kehidupan ini. Bila kita percaya kalau orang tua adalah wakil Tuhan di dunia ini maka berkat mereka adalah satu hal mutlak. Sumpah serapah orang tua bisa menjadi penghalang, tembok tebal nan tinggi yang berhiaskan duri-duri tajam beracun yang menghalangi segala berkat atas kita.

Satu lagi yang bisa abang coba.
Apa abang pernah bernazar?.
Saya seorang protestan yang kolot. Saya hanya tahu berdoa. Bila ada rejeki saya berikan ke gereja sebagai ucapan syukur. Bagi saya, apapun yang saya berikan, bukan untuk mengharapkan sesuatu, melainkan ucapan syukur. Saya memberi karena saya diberi, bukan karena saya akan diberi.

Banyak orang bernazar, bahasa gampangnya berjanji atau berikrar ketika meminta sesuatu. “Kalau Tuhan memberikan saya anak maka saya akan memberikan….”

Kira-kira begitu.

Menurut mereka, bernazar dengan disaksikan oleh orang lain sangatlah baik. Dan akan sangat baik pula diucapkan di rumah Tuhan.
“Abang boleh berdoa dan bernazar di gereja abang, supaya Tuhan membukakan pintu berkat mempunyai anak…” kata seseorang dari mereka.

Saya merenungi kata-kata mereka dalam satu malam ini, hingga terbawa mimpi.

Photo by google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s