Beranda » Kategori » HATA SO PISIK » Kata Mereka Aku Beruntung Karena Ayah dan Ibuku Guru.

Kata Mereka Aku Beruntung Karena Ayah dan Ibuku Guru.

 

Teringat 10tahun silam, ketika berbincang dengan kawan2 engineer, designer mesin, dari level bawah hingga GM sebuah merek terkenal dari Korea, Samsung. Salah satu bentuk keramahan orang korea adalah menjamu tamu makan malam. Entah level tamunya jauh di bawah maka makan semeja adalah suatu kehormatan bagi mereka.

Bergantian saling menceritakan keluarga masing-masing, tak terkecuali saya. Mereka sangat antusias kala kuceritakan ayah dan ibuku guru SD di sebuah daerah terpencil. Sang GM menepuk pundakku dan mengatakan kalau saya orang yg beruntung, memiliki orang tua yang berprofessi sebagai guru.

Rupanya, di Korea, profesi guru, perawat, polisi, dan pegawai pemerintah lainnya adalah pekerjaan mulia. Hanya orang2 terpilih yg mau merelakan dirinya melayani orang lain yang mau menjalani professi tersebut. Jauh dari hal hal yg bersifat materi. Karyawan swasta merupakan profesi utama di sana.

Sistem pendidikan pun dibuat sederhana demikian juga mata pelajaran. Tak heran jika Korea jarang atau mungkin tak pernah menjuarai olimpiade sains. Apakah karena mereka bodoh hanya untuk belajar matematik, fisika dan kimia?. Tidak. Pendidikan disana lebih menfokuskan pada profesi si anak kelak. Murid2 dilatih menjadi professional dibidang yg digelutinya. Engineer2 mereka masih berusia belia. Bahkan ada siswa magang.

Tak seperti di Indonesia. Anak STM bisa modifikasi mesin sudah dianggap prestasi luar biasa.

Guru, menjadi tokoh utama dan dipandang sebagai profesi mulia. Guru sangat dihormati. Rasa hormat berbeda dengan rasa takut, entah intimidasi atau takut karena nilai.

Bagaimana dgn Indonesia?.

Apakah layak memenjarakan guru hanya karena menunjukkan kepedulian kepada muridnya melalui hukuman fisik.
Memang serba salah.
Bila dibiarkan guru bisa sebebasnya memberikan hukuman fisik maka dikhawatirkan guru menjadi raja di sekolah dan bertindak sesuka hati.

Sebaliknya bila guru tidak diijinkan menghukum murid apakah itu tidak berdampak pada kualitas pendidikan kita?. Coba kita bayangkan bila kita berada di posisi guru. Lalu kita lihat anak murid melakukan perbuatan yg salah, lalu kita diamkan. Diingatkna tidak berubah dan perlu hukuman ternyata sang guru dilarang menghukum guru. Sunggu miris sekali.

Di luar negeri, bila anak salah, maka orangtua harus dipanggil menghadap wali kelas. Bila anak terlalu bodoh pun orang tua diberitahu bahkan dipanggil kesekolah. Ada historikal pendidikan si anak yang harus diketahui oleh orangtuanya.

Jaman dulu, guru mendidik dengan keras dan tegaa. Tapi jangan salah, karena jaman itu masih melekat sistem pendidikan ala penjajah. Guru menampar murid adalah lumrah. Murid hanya dicecoki apa kata guru sehingga murid tidak bersikap kritis pada keadaan.

Anak2 sekarang lahir dari keluarga masa kini, cengeng, rapuh, penakut tapi terkadang bangsat. Mereka bebas mengakses informasi semau mereka, tak ada batasan. Belajar dari internet dan mempraktekkan dalam kehidupanya. Jangankan guru, rasa hormat pada orangtua pun sudah memudar.

Ada yg salah dengan sistem pendidikan di negeri ini. Seharusnya ada komunikasi yg baik antara guru dan orang tua. Kebanyakan orang tua murid tidak mengenal guru anaknya. Demikian juga guru tidak mengenal muridnya apalagi keluarganya.

Guru dipaksa pemerintah hanya menyelesaikan rencana belajar, silabus pelajaran. Guru bagaikan robot yang tidak diberikan berimprovisasi dalam mendidik. Guru dipaksa mengejar target pembelajaran tanpa melihat apakah anak didik mengerti apa yg disampaikan. Guru juga dihukum pemerintah bila ada nilai murid yang jelek. Guru berada di posisi serba salah. Bila nilai si anak jelek, maka kepala sekolah akan dipanggil pemerintah lalu dihukum. Dilematis.

Guru juga dipaksa sebagai manager. Mengelola BOS dan keuangan lainya hingga mengawasi tukang-tukang. Akal-akalan para penjahat dinas pendidikan. Guru yg tidak mampu melakukan akan menjadi lahan empuk bagi bangsat PNs di dinas pendidikan memaikan anggaran.

Sampaikapan pun, kasus pemenjaraan guru akan terulang bila sistem pendidikan kita masih seperti sekarang.

Bagi si anak dan orangtuanya, sekolah hanyalah urusan selembar daftar nilai semata.

Guru, bila sudah keputusanmu menjalani profesi ini, maka lakonilah atas dasar pengabdian.

Bila hanya karena kamu tidak diterima bekerja di tempat lain, lalu kamu menjadi guru, pikirkanlah berkali2, profesi itu tak cocok untukmu.

Peradapan akan hancur bila tidak ada guru, tetapi peradapan akan berubah, entah keraha yg lebih baik atau buruk hanya karena guru.

Guru, kebaikan yg dalam hatimu belum tentu diterima semua orang, meski demikian tetaplah berpegang pada semangat pengabdian.

Guru, jangan jemu2 mengabdi, pun sgelintir orang bersifat arogan kepadamu, karena kamu tidak sedang mengajari seorang murid saja melainkan sedang memelihara dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s